| Koperasi |
|
|
|
| Written by prakarsa team |
| Wednesday, 11 October 2006 06:00 |
|
MEMBANGUN KOPERASI, MEMBANGUN SERIKAT EKONOMI“Berdirinya koperasi di desa-desa itu adalah dalama rangka menggerakan sumberdaya modal yang tercerai berai di rumah-rumah penduduk kemudian dikumpulkan menjadi satu dalam koperasi melalui simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela”Koperasi Indonesia memang tidak tumbuh secemerlang sejarah koperasi di Barat dan sebagian lain tidak berhasil ditumbuhkan dengan percepatan yang beriringan dengan kepentingan program pembangunan lainnya oleh Pemerintah. Krisis ekonomi telah meninggalkan pelajaran baru, bahwa ketika Pemerintah tidak berdaya lagi dan tidak memungkinkan untuk mengembangkan intervensi melalui program yang dilewatkan koperasi justru terkuak kekuatan swadaya koperasi. Di lain sisi, kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemodal besar (tengkulak uang) dengan mendirikan “koperasi” simpan pinjam yang sejatinya adalah rentenir yang berbadan hukum. Mereka telah menyerang sendi-sendi kelompok-kelompok rakyat dan mereka karena terpaksa juga larut. Ironisnya, mereka itu adalah kelompok yang kita kenal dan sering terlibat dalam kerja-kerja pengorganisasian. Sebenarnya, ada pengalaman perlawanan yang cukup cerah di Negara lain, misalnya Grameen Bank Banglades. Mereka menggunakan unit simpan pinjam sebagai medan penguatan rakyat miskin yang tidak punya modal dan tidak bisa mengakses modal. Sebenarnya pengalaman ini sudah kita lakukan, namun kita belum menjalin jaringan yang lebih luas. Dampaknya tidak meluasnya gagasan berkoperasi di wilayah kelompok kerja kita dan tidak pernah terpenuhinya pendidikan atas perkoperasian bagi kelompok-kelompok jaringan kita. Ada perbedaan penting yang dapat kita rasakan antara koperasi yang berdiri dan memiliki kantor dengan koperasi yang berdiri tanpa kantor yang bergerak-di desa-desa saat ini. Kalau yang punya kantor biasanya, antar anggota dan pengguna jasanya bisa jadi saling tidak kenal, tetapi sebaliknya koperasi di desa semua orang saling kenal, termasuk pengurusnya. Namun, perbedaan yang dapat kita rasakan adalah bahwa koperasi yang hidup dari keuntungan uang semata tidak pernah punya cita-cita untuk membangun lingkunga sekitarnya, didirikan tidak punya tujuan menyelesaiakan persoalan ekonomi anggota. Tetapi didirkan hanya untuk uang, uang dan uang. Berbeda dengan koperasi yang berdiri dan bergerak di desa-desa saat ini, mereka mendirikan koperasi juga untuk media berkumpul sehingga mereka saling membicarakan persoalan-persoalan anggota yang dihadapi. Tentu saja koperasi dapat menjadi bagian penyelesaian masalah ekonomi warganya. Namun yang jauh lebih pokok adalah berdirinya koperasi di desa-desa itu adalah dalama rangka menggerakan sumberdaya modal yang tercerai berai di rumah-rumah penduduk kemudian dikumpulkan menjadi satu dalam koperasi melalui simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Dengan demikian modal yang selama ini menjadi kendala dasar warga desa yang berprofesi sebagai petani secara langsung dapat dipenuhi. Koperasi di desa-desa ini dibentuk dan digerakan dalam semangat membangun desa mereka, bukan semata-mata urusan keuntungan uang. Saat ini, koperasi-koperasi itu telah berdiri di desa-desa. Lewat koperasi mereka telah mengundang inisiatif dan ide-ide penyelesaian persoalan yang mereka hadapi di desa mereka. Mereka secara rutin bertemu dalam forum koperasi. Dari desa mereka mulai menggerakan sumberdaya uang untuk kebutuhan anggota. Dengan koperasi mereka menggerakan sumberdaya manusia untuk kemajuan desanya. Dari desa mereka saling berhubungan dengan desa lain yang ada koperasinya untuk saling berbagi pengalaman maupun untuk kepentingan pendidikan perkoperasian. Saat ini, mereka telah membuat sindikat atau jaringan antar koperasi. Mereka saling berhubungan baik di di masing-masing kabupaten maupun antar kabupaten. Maka, koperasi yang berdiri di desa-desa ini secara tegas menujukan kepada kita bahwa koperasi-koperasi itu adalah soko guru gerakan membangun desa. Melihat gerakan koperasi yang sudah mulai menujukan perjuangan kedaulatan ekonomi ini, patut diberikan acungan jempol bagi kader-kader yang ada di massing-masing koperasi desa dimana mereka menjadi penggerak dan tumpuan koperasi. Kader-kader itu adalah salah satu tokoh penting dalam keberhasilan gerakan koperasi. Kedepan, kader-kader ini harus bergerak ke desa-desa lain untuk mendorong dan membantu berdirinya koperasi. Kalau hal ini bisa kita lakukan terus menerus dalam dua atau tiga tahun kedepan, tidak mustahil kita bisa menjadi penguasa di desa-desa, penguasa di kabuaten, penguasa di Jawa Timur. Penguasa dalam arti kita tidak dikuasi dan dirugikan oleh pemerintah dan aktor-aktor yang berlawanan dengan kepentingan rakyat. Kita berkuasa atas sumber daya alam kita sendiri, berkuasa atas keinginan kita sendiri, berkuasa untuk mengelola dan memajukan desa kita. Singkat kata, membangun desa dengan berkoperasi adalah cara kecil kita dalam berjuang. Selamat, bekerja di masing-masing koperasi. Dan sampai bertemu dalam pertemuan-pertemuan antar koperasi. |
| Last Updated on Monday, 31 March 2008 17:28 |
“Dalam situasi semua barang pokok mahal kami yang hanya kerja serabutan, seharusnya bisa memperhatikan kami dengan pelatihan-pelatihan kewirausahaan agar kami yang ada di desa bisa berwirausaha” Koreng, 27th, Kelompok Jimpitan Dsn. Pandanarum Kec.Baron |
| Today | 28 |
| Yesterday | 37 |
| Month | 311 |
| All | 53044 |
| (C) Fliesenstadt | |
Donasi dan sumbangan dapat diberikan kepada Perkumpulan Desa Mandiri melalui rekening BRI Nomer 3751-01-000103-50-9 a/n PUNDEN
