punden.org

 
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
  • default color
  • dark color
  • red color
PASAR BADUK, WISATA KULINER IKAN KALI YANG TERABAIKAN PDF  | Print |  E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Written by prakarsa team   

 (Nganjuk-Punden) Desa Malangsari terletak di sebelah barat kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Letak desa ini berbatasan langsung dengan Sungai Gunting. Sungai ini mengalirkan air dari Sungai Kuncir yang bersumber dari lereng Gunung Wilis. Sungai Gunting telah memberikan berkah tersendiri bagi kehidupan masyarakat Desa Malangsari baik di bidang pertanian maupun yang lain. Salah satu berkah yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk adalah ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai.

Berawal dari sini muncullah sebuah pasar ikan yang dulunya berada di tepi sungai. Dari kondisi seadanya dan sekarang telah berubah menjadi sebuah pasar ikan dan kuliner dengan ikan sungai sebagai menu utamanya. Pada awalnya ikan yang dijual adalah hasil tangkapan dari sungai tetapi seiring dengan semakin ramainya pengunjung sehingga pedagang harus mendapatkan suplai dari tempat lain.

Yang patut disayangkan adalah pasar yang kemudian dikenal dengan pasar Baduk ini tidak memperoleh perhatian yang serius dari pemerintah setempat. Melihat hal ini, sebuah kelompok pemuda Desa Malangsari yang tergabung dalam IPM (Ikatan Pemuda Malangsari) mempunyai inisiatif untuk mengelola pasar yang kian hari kian ramai oleh pengunjung.

Pada mulanya IPM yang diprakarsai oleh Henry mengelola lahan parkir sekitar pasar. Mereka berharap dengan mengelola lahan parkir tersebut bisa menambah pendapatan kelompok. Dengan semakin dikenalnya Pasar Baduk oleh masyarakat otomatis pengunjung semakin bertambah banyak dan pendapatan dari parkir pun kian menunjukkan hasil. Melihat hal itu pemerintah setempat melalui dinas terkait mulai membuka mata terhadap keberadaan pasar Baduk terutama dalam hal lahan parkir.

"Dinas pendapatan telah menentukan besarnya uang yang harus disetor setiap bulannya oleh IPM selaku pengelola lahan parkir yaitu sebesar Rp 100 ribu. Namun dengan berbagai lobi akhirnya IPM hanya menyetor Rp 15 ribu per bulannya," terang Kang Mul, salah satu juru parkir Pasar Baduk.

Henry sebagai ketua IPM yang lebih dikenal dengan sebutan Pepenk ini mengatakan bahwa selain harus menyetor sebagian penghasilan dari pengelolaan lahan parkir tersebut, pedagang yang ada di pasar Baduk juga harus membayar retribusi setiap harinya ke pemerintah. "Yang membuat saya heran adalah mengapa pemerintah hanya menerima setoran dari kami tetapi tidak ada perhatian yang serius terhadap kondisi pasar ini sendiri," lanjut ayah satu anak ini.

 

Perlu Pembenahan Lahan Parkir

Sebenarnya masih banyak yang harus dibenahi dari keberadaan Pasar Baduk ini, diantaranya adalah lahan parkir yang belum tersentuh pembangunan sama sekali. Samini, salah satu pedagang di pasar tersebut sangat mengeluhkan kondisi lahan parkir yang tidak mendapatkan perawatan sama sekali. "Kalau musim kemarau kami sangat terganggu dengan debu yang beterbangan oleh lalu lalang kendaraan yang parkir. Selain mengganggu kenyamanan pengunjung, debu ini juga sangat mengganggu pemandangan," ungkapnya. Samini berharap pemerintah segera mengatasi kondisi ini dengan mengaspal atau mempaving lahan parkir tersebut.

Disisi lain, ketika musim kampanye para pedagang sempat dibuai dengan janji-janji dari calon wakil rakyat, bahkan calon bupati yang mengkampanyekan dirinya di wilayah tersebut. "Bupati yang sekarang menjabat, pada saat kampanye dulu pernah berjanji untuk mempaving area ini. Namun hingga lebih dari setahun menjabat belum ada realisasi dari janji tersebut" kata Mujianto yang juga berprofesi sebagai pedagang di pasar Baduk.

 

Kelola Parkir dan Bentuk Koperasi

Selain mengelola lahan parkir, IPM juga memiliki kegiatan rutin yaitu arisan kelompok. Kelompok arisan ini beranggotakan para pedagang sekaligus pensuplai ikan di Pasar Baduk. Arisan yang diadakan setiap hari minggu ini terbukti bisa membuat ikatan emosional antar pelaku di pasar Baduk menjadi lebih erat. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka karena dengan arisan ini mereka bisa menyisihkan sebagian penghasilannya agar tidak habis begitu saja. "Anggap saja nyelengi (menabung) mbak" tambah Mujianto

Akan tetapi kegiatan arisan ini masih hanya sekedar bayar dan bayar saja. Belum ada administrasi maupun kegiatan lain. IPM berharap para pedagang bisa tergabung dalam sebuah kelompok yang memiliki struktur dan kegiatan yang jelas sehingga bisa saling tukar pengalaman. "Kedepan, kami akan melakukan pertemuan khusus untuk membahas masalah ini," terang Pepenk.

Kelompok ini nantinya diharapkan bisa menjadi wadah bagi para pedagang untuk mengembangkan diri sehingga ada sedikit kemajuan dari yang hanya sekedar datang berjualan kemudian pulang. IPM berharap agar para pedagang di Pasar Baduk memiliki sebuah koperasi sebagai sebuah lembaga penguatan ekonomi yang bisa membantu anggotanya. Mereka berfikir dengan terbentuknya koperasi para pedagang bisa saling membantu. Mereka yang memiliki modal lebih banyak bisa menanamkan modalnya di koperasi sehingga yang kekurangan modal bisa terbantu. "Satu yang menjadi tujuan utama kelompok ini adalah para pedagang bisa memperoleh kesejahteraan ekonomi secara utuh," lanjut Mujianto yang berdagang es rumput laut di Pasar Baduk.

Pepenk yang juga berjualan roti bakar ini yakin bahwa kedepan kelompoknya akan menjadi kelompok yang besar yang mampu mengakomodir segala kebutuhan anggotanya. Satu yang pasti dari IPM adalah "Berkumpul, Berfikir, dan Bertindak demi tercapainya kesejahteraan bersama. Amin. (Lila)

 

 

 

ORGANIZING STORY

Today29
Yesterday37
Month312
All53045

(C) Fliesenstadt

Publication



Module by: Camp26.Com

Donasi

Donasi dan sumbangan dapat diberikan kepada Perkumpulan Desa Mandiri melalui rekening BRI Nomer 3751-01-000103-50-9 a/n PUNDEN

donate

 


www.punden.org
punden.org