| Masyarakat Desa Hutan Butuh Pemberdayaan | | Print | |
| Written by prakarsa team | |||
|
Bangsa Indonesia yang di karunia Sumber daya Alam yang sangat melimpah berupa Darat,Laut dan Udara dengan berlimpah-limpah dengan berbagai fungsi dan peranannya sebagai sumber kehidupan. Salah satu kekayaan alam itu adalah hutan. Di kawasan hutan inilah terkandung kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dan di huni oleh jutaan mahluk hutan yang merupakan satu kesatuan hidup yang komplek dan saling bersimbiosis. Undang-undang dasar republik Indonesia memberi petunjuk bahwa bumi, air, dan kekayaan yang terkandung didalam adalah pokok-pokok atau sendi kemakmuran rakyat, sehingga harus dikuasai oleh negara untuk di gunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Tak banyak yang di lakukan oleh sebagian besar penduduk dusun Bangkak Desa Turi pinggir kecamatan lengkong,untuk jalan-jalan keluar desa atau sekedar melihat keramaian pasar. Terutama kaum perempuannya. Bukan karena jarak atau transportasi yang tidak ada, karena banyak jalur bekas kendaraan pengangkut kayu hasil hutan yang menuju jalan desa yang menuju kota kecamatan yang jarak nya hanya sekitar km yang akhirnya menjadi jalan desa. Untuk masuk dusun ini kita harus melewati jalan yang sangat terjal dan licin, apalagi musim hujan sudah mulai turun, banyak kubangan air dan berlumpur. Hampir tidak ada petunjuk untuk tahu apa nama dusun ini, karena tidak ada gerbang atau sekedar papan nama.Memang dusun ini sangat terisolir, karena letaknya yang berada di dalam kawasan hutan. Seperti pada desa-desa di daerah pegunungan, hampir semua penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, dan sebagai penopang hidup menunggu massa panen sebagai pencari kayu bakar daun untuk di jual, karena walaupun kebanyakan dari mereka sebagai petani namun hanya selama musim penghujan bisa bercocok tanam, karena pada musim kemarau wilayah ini sangat kering dan air menjadi sangat langka. Praktis pada musim kemarau hanya beternak yang bisa di lakukan oleh kebanyakan warga, sedangkan perempuannya mencari kayu bakar untuk di jual. Sumarsono, Kepala dusun Bangkak mengatakan bahwa, sekarang penduduk sudah mulai bercocok tanam bersamaan dengan datangnya musim hujan. Semua area disini sebagai daerah tadah hujan dan kalau musim kemarau begitu kering, sungai maupun sumber air tidak ada, jelas nya. Akan tetapi walaupun sudah mulai bisa bercocok tanam, hanya komoditi tertentu yang bisa ditanam, seperti jagung, ketela, cabe dan tanaman sayur lainnya, hal ini disebabkan karena intensitas hujan masih rendah.
AIR MENJADI MASALAH UTAMA Tidak seperti daerah pegunungan lainnya yang mempunyai ketinggian Diatas Permukaan Laut (DPL) lebih dari 1500m dengan berbagai jenis pohon dan kaya dengan sumber mata air, dan sungai yang mengalir dari puncak bukit dan turun ke lembah-lembah hingga dapat di manfaatkan oleh penduduk di lereng gunung, tingkat kesuburan tanah pun tinggi. Berbeda dengan kawasan hutan bagian utara wilayah Kabupaten Nganjuk yang meliputi 5 (lima) kecamatan (rejoso, ngluyu, gondang, lengkong, jatikalen) daerah yang berbatasan dengan kabupaten Bojonegoro ini merupakan kawasan yang kering. Di beberapa titik memang terdapat aliran sungai dan sumber air akan tetapi tidak cukup untuk kebutuhan pertanian, bahkan dalam kondisi kemarau mata air ini banyak yang mati. Bahkan untuk kebutuhan rumah tangga pun kurang. Bagi Masyarakat di daerah yang tinggal di tepian dan kawasan hutan air menjadi hal yang sangat mahal. Dari sekian wilayah, Dusun Bangkak Desa Turi pinggir Kecamatan Lengkong ini salah Satu yang kondisi wilayah kesulitan air. Walaupun sebagian penduduk punya sumur gali hal ini tidak banyak membantu, jangankan untuk kebutuhan pertanian untuk kebutuhan rumah tangga masih kurang. Dusun Bangkak desa Turi Pinggir, penduduk dusun ini sedikit kurang mujur di bandingkan dengan desa-desa lain di kawasan hutan kecamatan Lengkong ini. Keberadaan dusun yang di kelilingi oleh hutan dan berada di lembah perbukitan dan sebagian kontur tanah kering, maka tak heran kalau air menjadi barang yang langka. Hal ini juga berdampak pada sebagian Masyarakat untuk menjadi buruh migran menjadi pekerja di kota-kota besar. Sebagai kepala dusun Sumarsono,46 th sangat berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu pengadaan air agar masyarakat bisa bercocok tanam pada musim kemarau, dengan demikian kesejahteraan Masyarakat bisa meningkat. “pernah ada petugas PPL dari kecamatan dan menjanjikan untuk memberikan bantuan mesin pompa air untuk membantu petani disini, akan tetapi sampai sekarang tidak ada realisasinya” keluhnya. Setiap musim kemarau tiba masyarakat sudah mulai meninggalkan sawah dan ladang untuk beralih mencari kayu bakar dan kegiatan ini biasa dilakukan kaum perempuan untuk membantu para suami. Bagi Masyarakat di wilayah hutan ini air menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis, sekaligus magis. Dari air inilah yang dapat memberikan getaran kedamaian sekaligus menjadi goncangan bagi Masyarakat. Air telah menjadi soal hidup dam mati. Bagi Masyarakat disini yang memang hampir seluruh Masyarakat nya sebagai petani, sehingga air merupakan salah satu factor utama dan menentukan bagi kelangsungan hidup petani dan warga.
|
