| Dari Ronda menjadi Jimpitan dan Simpan Pinjam | | Print | |
| Written by prakarsa team | |||
|
Kalau tengah malam kita melintas di daerah Kecamatan Baron, suara bunyi tabuhan sayub-sayub terdengar. Suara itu berasal dari Dusun Pandanarum Desa Kemlokolegi Kecamatan Baron, tepatnya di RT 01 dan RT02. Dengan alat galon air, kentongan dan besi bekas, beberapa pemuda berkeliling di lingkungan mereka. Ya, mereka melakukan ronda. Menariknya lagi, selain mereka menjaga keamanan lingkungan secara swakarsa, bentuk kepedulian warga terhadap keamanan lingkungannya itu juga untuk dilakukan jumpitan. Mereka mendatangi rumah-rumah di lingkungan RTnya sambil mengambil beras satu cangkir. Dari hasil usaha ini setiap bulan bisa terkumpul skitar 25 kg. Hasil dari jimpitan ini setiap bulan dijual lagi kepada anggota dengan harga dibawah harga pasar. Uang dari hasil penjualan ini lalu di kelola oleh kelompok. Usaha ini dilakukan sejak 9 bulan yang lalu, tepatnya Juni 2007. Berawal dari beberapa pemuda yang mengadakan kegiatan perlombaan hari besar Nasional, akhirnya inisiatifnya berkembang menjadi ronda dan jimpitan beras. Karena, panitia merasa tidak ada pendanaan jika ingin melakuakn kegiatan. Panitia desa selau bergantung dari sumbangan warga dan sumbangan itu belum bisa mencukupi untuk kegitan tersebut. Sehingga dalam evalusi setelah kegiatan tersebut, akhirnya mereka bersepakat untuk melakuan usaha bersama yaitu iuran dengan beras dengan melakukan jimpitan di lingkungannya. Saat ini, iuran dengan model jimpitan ini sudah terasa manfaatnya. Dalam laporan bulan Maret 2008 lalu, telah terkumpul beras yang dirupakan uang sebesar Rp.800.000. Agar uang ini bisa berjalan manfaatnya, mereka bersepakat untuk dialokasikan sebagai kegiatan simpan pinjam bagi anggota. Jasa yang ditetapkan adalah 5% dalam tenggang waktu pinjaman selama 2 bulan. Saat ini sudah 21 orang yang menjadi anggota dan keseluruhanya adalah warga RT 01 RW 02 Dsn Pandanarum. Setiap 2 minggu mereka melakukan pertemuan rutin untuk melaporkan hasil jimpitan sekaligus pembayaran angsuran bagi anggota yang meminjam. Usaha warga ini tidak hanya berhenti dalam ronda, jimpitan, dan simpan pinjam. Mereka sudah merencanakan kegiatan berupa latihan ketrampilan guna menambah pengetahuan dan kreatifitas anggota. ”Untuk memajukan kelompok ini, saat ini masih berkonsentrasi di turnamen bola-voli karena sebagian besar dari anggota juga panitia”, ujar Agus Mujiono, salah satu penggerak pemuda Dusun Pandanarum. Harapannya, kedepan akan banyak inisaitf yang dilakukan untuk memajukan dusunya, sehinga bisa menjadi contoh bagi pemuda-pemuda desa lain. Saat ini, pemuda Dusun Pandanarum, disamping melakukan usaha bersama lewat simpan pinjam, mereka juga mempunyai club bola voly. Dalam kegiatan ini ternyata juga melahirkan banyak prestasi. Salah-satunya, Juara II Turnamen Bola Voly Di Baleturi Kec.Prambon pada Tahun 2006, Juara III di Desa Jambi Tahun 2007, mewakili Koramil Baron dalam DANDIM CUP Tahun 2007 yang akhirnya menjadi Juara III. Untuk mempererat antar pemuda dengan desa yang lain juga rutin melakukan pertandingan persahabatan. Ditengah solidaritas antar warga yang semakin memudar, pengalaman pemuda Dusun Pandanarum ini menjadi angin segar bagi perubahan dan kemajuan desanya. Pemuda yang sering dianggap kelompok massyarakat tidak produktif dan sering tidak diikutkan dalam membuat keputusan penting bagi pembangunan desa, justru telah menujukan kepada kita arti sebuah pembangunan desa secara jelas.
|
