|
(Nganjuk) Datangnya musim kemarau yang biasa terjadi, bersamaan dengan selesainya musim tanam padi kedua (gaduan), biasanya digunakan sebagian petani untuk menanam komoditas buah-buahan dan tanaman palawijo seperti (semangka, jagung, kedelai, dan buah garbis ). Di tahun ini kebiasaan itu berubah, beberapa petani ada yang baru bersiap mengolah sawah untuk persiapan tanam, dan sebagian lagi bersiap menanam komoditas lainnya. Akan tetapi nasib berkata lain.
Hujan yang turun tidak seperti biasa bahkan turun seperti di musim penghujan, membuat tanaman jagung yang baru tumbuh dan baru ditanam mati menguning. Puluhan hektar tanaman jagung tidak bisa tumbuh normal dan petani pun merugi. Meski begitu, semangat untuk terus bercocok tanam harus terus ada untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin beragam. Sehingga berbagai cara di lakukan untuk mendapatkan modal bercocok tanam. Ada yang pinjam saudara, jual ternak, bahkan ada yang menggadaikan barang berharga miliknya. Menghadapi situasi ini, ada satu cara yang unik dan mungkin bisa ditiru oleh petani lainnya. Apa yang di lakukan oleh para petani ini, adalah salah satu solusi menghadapi situasi cuaca yang tidak menentu. Petani didusun kami Dusun Nglaban Desa Babadan Kecamatan Patianrowo Nganjuk, menjadi kebingungan untuk mengolah sawah untuk ditanami. Seharusnya masa sekarang ini pada bulan September para petani menanam jagung atau buah semangka serta komuditas sayur dan buah lainya. Karena curah hujan intensitasnya masih tinggi, ada sebagian petani yang membiarkan sawahnya tidak ditanami (bero) dan ada sebagian petani yang memulai menyebar benih padi (nampek). Mereka mempunyai keyakinan masing-masing dengan pemahaman mereka sendiri. Bagi yang nekad untuk memulai menanam padi berharap hujan akan banyak turun dan air irigasi bisa mengalir setiap hari dengan volume dan debit air bisa meningkat sehingga kebutuhan air untuk tanaman padi tercukupi. Tapi bagi yang ingin mencoba teknik lain, model tanam JLEGORAN bisa menjadi salah satu alternatif untuk terus menggarap sawah. Model tanam jlegoran sudah pernah di lakukan oleh para petani kita pada masa lalu, ketika terjadi perubahan musim yang tidak menentu. Rendeng kembar (musim hujan bersamaan). Pada model ini petani tidak menyebar benih untuk persemaian sebagai bakal calon bibit yang akan di tanam, akan tetapi secara gotong royong mencari bibit di areal pesawahan yang tumbuh liar disela-sela tanaman. Benih padi ini tumbuh dari rontokan padi pada musim panen sebelumnya. Biasanya ada di sawah yang sudah ditanami kedelai, semangka atau yang sengaja dibiarkan tidak ditanami untuk menunggu musim tanam padi berikutnya. Sistem jlegoran ini tidak hanya efektif tapi secara ekonomis bisa menekan biaya produksi. Usaha tani dengan model jlegoran ini sebenarnya sudah tidak asing lagi, khususnya di daerah nganjuk. Pola ini sering di gunakan pada puluhan tahun yang lalu ketika terjadi musim yang tidak menentu. Manfaat model tanam dengan Jlegoran adalah: 1. Petani tidak usah menyebar benih, karena bibit tanaman di hasilkan dari tanaman liar yang tumbuh di sela tanaman inti sehingga petani tidak perlu mengeluarkan modal untuk biaya pembenihan. 2. Masa tanam menjadi singkat, karena benih yang di dapat dari Jlegoran bisa langsung di tanam, sehingga pada waktu musim tanam ( rendengan ) berikutnya bisa tepat. 3. Areal tanaman yang terdapat bibit jlegoran bisa terbebas dari gulma, karena tanaman jlegoran ini bisa menjadi tanaman penggangu apabila tumbuh liar. 4. Secara kualitas benih jlegoran pasti lebih baik dari benih padi yang sempurna karena bisa tumbuh secara alami tanpa ada pengolahan tanah terlebih dahulu.
Akan tetapi kekurangan dari usaha tani jlegoran ini, kita tidak tahu jenis komoditas padi yang akan kita tanam karena pada prinsipnya secara struktur benih sama bentuknya ketika masih berupa bibit jadi kita tidak bisa menanam sesuai dengan jenis keinginan kita baru setelah tanaman mulai berbunga kita bisa tahu jenis padi jlegoran yang kita tanam. Akan tetapi, kita bisa juga mengetahui jenis bibit jlegoran ini dengan cara menanyakan kepada petani pemilik lahan yang terdapat jlegoran, jenis apa yang di tanam sebelumnya. Hal ini sangat di mungkinkan karena lahan yang terdapat bibit jlegoran biasanya milik petani yang sudah mengenal dan satu kawasan. Pola tanaman sistem jlegoran ini akan tumbuh normal seperti pola tanaman model persemaian terlebih dahulu. Dengan pengolahan tanah dan perawatan hasil dari benih jlegoran ini akan menghasilkan produksi yang maksimal dengan pengairan yang cukup dan penggunakan pupuk yang seimbang. Dan kalau mungkin diusakan menggunakan pupuk alami (organik ). SELAMAT BERCOCOK TANAM. (GAGUK EKO PRASETYO, Anggota Kelompok Tani ”SUMBER REJEKI” Dsn.Nglaban Ds.Babadan Kec.Patianrowo Nganjuk).
|