| |
|
|
| |
|
Thursday, 23 February 2012
|
|
|
| |
|
Donasi |
|
Donasi dan sumbangan dapat diberikan kepada Perkumpulan Desa Mandiri melalui rekening BRI Nomer 3751-01-000103-50-9 a/n PUNDEN
|
|
|
Kompor Biomass Tanpa Polusi Masuk Ke Nganjuk |
PDF |
| Print | |
E-mail |
|
Written by prakarsa team
|
|
Pemanfaatan energi yang mudah dan murah, kini banyak dilirik oleh masyarakat di tengah himpitan kenaikan harga BBM. Penggunaan bahan bakar alternatif digunakan untuk mengganti minyak tanah dan gas yang semakin mahal. Salah satunya adalah dengan menggunakan Kompor Biomass UB03, kompor yang berbahan bakar potongan kayu, ranting kering, bonggol jagung, briket sampah dll dengan sistem pembakaran turbulen yang mampu menghasilkan api yang jauh lebih bersih dari pembakaran tradisional.
Siang itu, di kantor PUNDEN (Perkumpulan Desa Mandiri) yang berada di Kertosono kedatangan Dr.rer.nat. Muhammad Nurhuda adalah seorang dosen dan peneliti di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Dosen peneliti yang juga menempuh S3 di Jerman ini mempresentaikan Kompor Biomass UB03. Dalam pertemuan yang juga dihadiri 20an orang anggota SERAB (Serikat Rakyat Anjuk Ladang Berdaulat), Nurhuda mensosialisasikan penggunaan kompor berbahan baku energi yang terbarukan. “Kompor ini memiliki kelebihan tidak meledak seperti elpiji, dan panasnya hampir sama dengan kompor elpiji yang 3 kg. Kompor ini tidak menimbulkan asap seperti kompor minyak tanah atau tungku (pawon). Dan yang jauh lebih penting adalah bahan bakunya tidak usah membeli kalau kita hidup di pedesaan seperti wilayah Nganjuk ini,” tandas Nur Huda.
Ide lain muncul dari pertemuan tersebut. Menurut Nurhuda, kompor ini bisa disinergikan dengan agenda persoalan sampah di tiap kota, termasuk Kertosono. Menurutnya, sampah pasar di setiap kota selalu menjadi masalah besar yang tidak bisa ditangani dengan baik. “Saya lihat di Kertosono ada pasar yang pasti akan menghasilkan sampah setiap harinya. Jika Sampah ini bisa kita olah menjadi briket, maka briket ini bisa menjadi bahan baku kompor dan sampah menjadi nilai jual tersendiri. Ini perlu diupayakan oleh PUNDEN sebagai organisasi sosial bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Nganjuk. ” ungkap Nurhuda yang optimis.
Ide pemanfaatan sampah sebagai bahan baku kompor seperti menyelam dalam air. Kebutuhan energi yang semakin mahal bisa ditutupi dengan kompor biomass. Sedangkan kebutuhan bahan baker kompor bisa menggunakan briket sampah. Briket sampah ini bisa dibuat dengan sederhana dari sampah pasar yang setiap hari menggunung yang dihasilkan dari pasar dan warga kota. Dengan demikian, pemerintah tidaklagi disibukan dengan pengelolaan sampah pasar, karena bisa digunakan sebagai bahan energi warga. Seandainya saja pemerintah punya agenda pengelolaan sampah yang berkelanjutan? Semoga
|
|
|
|
|
|